Ekonomi

Pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Membuat Harga Minyak Naik

Harga minyak pada perdagangan Senin (22/1/2018) kembali menguat, didorong oleh pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih bahwa negara-negara OPEC dan non OPEC akan terus bekerja sama untuk melanjutkan pemangkasan produksi minyak melampaui tahun 2018.

Pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih membuat harga minyak naik.

Selain keinginan perpanjangan pemangkasan produksi, naiknya harga minyak diakibatkan pertumbuhan permintaan yang kuat. Sementara di satu sisi, Amerika Serikat yang menjadi pesaing OPEC dan Rusia, mulai menurunkan aktivitas pengeboran minyaknya.

Melansir dari Reuters, Senin, harga minyak Brent International naik 25 sen atau 0,4% menjadi USD68,89 per barel pada pukul 03:15 GMT. Hal ini kembali mendekati tingkat pada 15 Januari 2018, yang mencapai USD70,37 per barel, angka tertinggi semenjak Desember 2014.

Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) naik 24 sen atau 0,4% menjadi USD63,61 per barel. Nyaris mendekati level pada 16 Januari 2018, dimana WTI mencapai USD54,89 per barel, juga tertinggi sejak Desember 2014.

Arab Saudi sebagai eksportir minyak utama dunia dan pemimpin de facto Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), menyebut pada hari Minggu, bahwa produsen minyak utama setuju untuk terus bekerja sama dalam pemotongan produksi sampai akhir tahun ini.

“Ada kesiapan untuk melanjutkan kerja sama hingga melewati 2018. Mekanisme ini belum ditentukan, tetapi ada konsensus untuk melanjutkan,” kata Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih.

Sekelompok produsen minyak termasuk OPEC dan Rusia, produsen minyak mentah terbesar di dunia, mulai menahan produksi pada Januari tahun 2017 untuk menopang harga. Kesepakatan tersebut bakal berakhir pada akhir 2018.