Teknologi

Pilih Mana, Smartphone Kaca atau Aluminium?

Sejak kemunculan Huawei Honor 8 yang mempunyai bodi belakang kaca reflektif yang terlihat menarik, smartphone menengah ke atas kini rata-rata sudah menggunakan material kaca dibandingkan dengan aluminium. Untuk tahun ini saja, beberapa smartphone unggulan di MWC 2018 menggunakan bahan utama kaca menggantikan aluminium. Sebut saja Samsung Galaxy S9/S9+, ZTE Blade V9, Nokia 8 Sirocco, Sony Xperia XZ2, serta ASUS Zenfone 5 Series-nya.

Body kaca relfektif Huawei Honor 8
Fakta tersebut tentu membuat banyak orang bertanya-tanya, apakah bahan kaca lebih baik daripada bahan aluminium?
Hal ini tentu saja cukup sulit untuk diperbandingkan lantaran keduanya mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing. Bagaimanapun material aluminum atau metal tentu saja mempunyai ketahanan yang lebih daripada material kaca. Tetapi kenapa saat ini banyak produsen smartphone memilih kaca?
Yang pertama, smartphone yang menggunakan bahan kaca terlihat lebih mewah daripada smartphone yang menggunakan aluminium.
Pertama kali Huawei Honor 8 muncul dengan bodi belakang kaca yang memantulkan cahaya yang menarik sehingga seakan-akan bodi belakang kacanya terlihat mempunyai motif. Terlihat mewah dan elegan, apalagi dengan warna biru gelapnya yang menawan.
Padahal, selain mempunyai ketahanan yang lebih baik dari kaca, bahan aluminium juga merupakan penghantar panas yang baik. Sementara material kaca akan menahan suhu perangkat tetap berada di dalam.
Tetapi orang-orang menyukai kemewahan. Jadi hal itu mungkin tidak terlalu menjadi permasalahan meskipun perangkat terasa hangat.
Yang kedua, material kaca menangkap sinyal lebih baik daripada bahan aluminium. Hal ini kemudian berhubungan dengan sisi desain, yang tidak perlu membuat garis antena di bodi belakang.
Tetapi kelemahannya, sekali lagi pada daya tahan. Jika smartphone berbahan kaca ini jatuh tentu saja yang terjadi adalah retak, kalau bukan pecah. Sementara smartphone aluminium tidak akan retak. Berbekas, atau dekok mungkin saja. Tapi tidak akan pecah. Kaca juga rentan terhadap goresan. Pelindung layar seperti Gorilla Glass mungkin efektif melindungi layar depan dari berbagai scratch atau goresan. Tetapi entah kenapa tidak efektif untuk bodi belakang smartphone.
Upgrade Gorilla Glass versi 4 ke atas lebih melindungi perangkat dari goncangan daripada goresan. Bagaimanapun juga Gorilla Glass adalah kaca, yang rentan pada goresan. Menggunakan pelindung atau case, baik itu hardcase ataupun softcase mungkin bisa meminimalisir kerusakan ketika terjadi benturan.
Konsekuensinya, kemewahan kaca tidak begitu terlihat. Selain itu, ketika kaca ini retak, biaya yang dibutuhkan untuk penggantian kaca tidak bisa dibilang sedikit. Contohnya saja, Apple akan menuntut biaya sebesar $549 untuk kaca belakang dan $279 untuk kaca depan.
Yang mungkin jadi pertimbangan selanjutnya kenapa banyak smartphone flagship menggunakan material kaca di bodi belakang adalah karena material kaca mendukung teknologi pengisian daya nirkabel.
Terlepas dari beberapa kelemahan kaca, fakta bahwa material kaca juga mendukung beberapa teknologi terkini juga dapat menjadi pertimbangan para produsen smartphone populer mulai menggunakan kaca daripada aluminium. Teknologi pengisian daya nirkabel saat ini mulai populer.
Intinya, masing-masing material mempunyai keunggulan dan kelemahan. Jadi jika mencari mana yang lebih baik antara smartphone berbahan kaca dan smartphone aluminium, tentu saja kembali ke selera masing-masing. Smartphone kaca tentu saja terlihat menawan, cantik, dan berkilau tetapi juga mempunyai resiko terutama dengan ketahanannya.
Jadi, mana yang lebih baik antara smartphone kaca dan smartpone aluminium? Tergantung pada selera masing-masing.