Nasional

Negara Merugi Rp74,4 Triliun Akibat Narkoba

Perang terhadap narkoba terus digencarkan diantaranya melalui serangkaian penangkapan dan tindakan tegas terhadap para pelaku. Potensi kerugian ekonomi akibat narkoba diperkirakan mencapai Rp74,4 triliun.

Saat ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah masuk kategori kejahatan luar biasa lantaran sudah menelan korban jiwa, jutaan orang menjadi pencandu. Kondisi ini disampaikan sejumlah kalangan di antaranya Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Heru Winarko, Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi, serta anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertajuk “Sergap Penyelun dup Narkoba: Apa dan Bagai mana?” di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Jakarta kemarin.

Negara Merugi Rp74,4 Triliun Akibat Narkoba

“Kita prihatin pemakaian narkoba begitu luar biasanya. Indonesia adalah pasar yang sangat krusial. Pasar narkoba saat ini. Sebanyak 3,3 juta penduduk Indonesia sampai lebih dari 5 juta mengonsumsi narkoba. Estimasi kerugian ekonomi dari narkoba adalah Rp74,4 triliun,” katanya.

Menurut Arteria, kejahatan narkoba ini harus disikapi serius. Meskipun BNN, Bea Cukai, dan aparat kepolisian mampu mengungkap penyelundupan narkoba besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir, ternyata prevalensi kasusnya justru semakin meningkat. “Jumlah pemakai dengan jumlah narkoba yang beredar sekitar 2,18%. Eskalasinya begitu tinggi. Pemakainya usia produktif dari 10-59 tahun. Yang sangat produktif 24-30 tahun,” ungkap anggota Fraksi PDIP itu.

Berdasarkan data yang di peroleh Komisi III DPR, pemakai narkoba sangat aktif di Indonesia mencapai sekitar 1,4 juta orang, pencandu aktif sekitar 943.000 orang, dan yang mencoba memakai antara 1,6 juta sampai 2 juta orang. Menurut Arteria, jumlah ini amat mengerikan mengingat dari data pada 2017 diperkirakan kebutuhan ganja per tahun mencapai 158 ton, 219 ton sabu, ekstasi 14 juta butir.

Sementara temuan dari aparat penegak hukum hanya sekitar 3 ton sabu/ ganja atau ratusan ribu butir ekstasi sehingga ada permintaan dan pasar yang luas bagi para bandar narkoba merajalela di Tanah Air.

“Dari jumlah tersebut, maka sebanyak 13.000 orang diantaranya mengonsumsi narkoba secara berlebihan. Sedikitnya 33 sampai 41 orang meninggal setiap hari karena narkoba. Peredaran narkoba bukan hanya di Jakarta, tetapi sudah sampai ke perdesaan,” bebernya.

Sementara itu, BNN menekankan upaya pemberantasan narkoba dengan pola pencegahan yang lebih sistematis. Pada 2018 BNN mampu melumpuhkan 26 sindikat narkoba yang nekat beraksi di dalam negeri. “Narkoba adalah musuh kita bersama. Presiden meminta agar BNN mampu mengurangi pasokan (narkoba) yang diketahui kini sebanyak 70% di antaranya berasal dari luar negeri,” kata Heru Winarko.

Selain itu, BNN juga diminta menekan tingginya permintaan narkoba dan mengurangi jumlah korban narkoba yang kembali terlibat. Serangan narkoba di Indonesia saat ini, menurut Heru, memang cukup memprihatinkan. Hal itu membuat BNN, ibarat dia, seperti dipukuli.

“Kita seperti dipukulin sehingga harus selalu bertahan, double cover,” katanya. Guna memberantas gempuran narkoba, BNN menjalin kerja sama dengan sedikitnya 12 negara yang hadir dalam konferensi penanggulangan narkoba di Wina, Austria beberapa waktu lalu.

Bangun Sistem

Di dalam pencegahan, BNN tidak lagi sekadar memberi ceramah akan bahaya narkoba, tetapi juga membangun sistem. “Terkait ceramah-ceramah dalam kerangka pencegahan, yang diberi ceramah tidak hanya diperlakukan sebagai objek. Tapi, juga sebagai subjek sehingga mereka pun bisa mengetahui seperti apa ancaman narkoba. Karena sasaran narkoba juga bisa anak-anak SD, bukan cuma mahasiswa,” katanya. Termasuk, Heru melanjutkan, membangun pencegahan sistem di lapas. Jadi kelak lapas bukan cuma membina para napi narkoba, tapi juga menjadi tempat rehabilitasi.

“Sehingga selain dihukum, para penyalahguna narkoba itu juga harus direhab,” tuturnya. Pemerintah ke depan, menurut Heru, juga akan menata sistem masuknya prekursor ke Indonesia. Prekursor dipakai untuk penelitian diantaranya kerap pula disalahgunakan. Di sisi lain, Heru mengungkapkan bahwa sindikat narkoba sering masuk ke Indonesia karena harga narkoba di Indonesia luar biasa mahal. Di China harga per gram setara dengan Rp20.000, di Iran Rp50.000.

“Sedangkan di sini per gram bisa mencapai Rp1,5 juta,” katanya. Sedangkan Heru Pambudi mengungkapkan, untuk memerangi narkoba yang dikelola oleh sindikat, Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan melakukan sinergi yang kuat dengan berbagai pihak seperti BNN, Polri, TNI, BPOM, Kemenkes, Kemensos, dan masyarakat.

Heru juga menjelaskan, “Sepanjang tahun lalu narkoba yang tertangkap sebesar 3 ton. Sedangkan pada 2018 ini hanya dalam tiga bulan sudah 2,5 ton.” Dia mensinyalir Indonesia sekarang menjadi target pasar narkoba yang besar. “Pintu masuknya bisa dari Batam, Bandara Soekarno-Hatta, Bali, Juanda, dan Bandung. Juga dari pintu perbatasan di Entikong, Kalbar. Karena perbatasan, bandara, dan pelabuhan melalui pemeriksaan ketat, maka cara baru melalui pengirim an pos kilat sudah dicoba pula, “katanya.