BisnisEkonomi

Catat Kinerja Positif, Aset LPS Capai Rp101,3 Triliun Hingga Juli 2018

Tercatat hingga 31 Juli 2018, Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS mencatatkan kinerja yang positif. Capaian kinerja tersebut diperoleh dari kinerja keuangan maupun operasional.

Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan menjelaskan, untuk aset LPS, tercatat sebesar Rp101,30 triliun. Terdiri atas investasi sebesar Rp90,63 triliun, piutang Rp1,64 triliun, kas Rp7,99 triliun, dan dana lain Rp1,04 triliun.

“Dana LPS di atas Rp100 triliun, tertinggi dalam sejarah kalau dibanding DIC (deposit insurance corporation) negara lain. Kita nomor tiga di Asia, setelah Jepang dan Korea. Ini di Asia,” tutur Fauzi di kantornya, Rabu 12 September 2018.

Atas kinerja tersebut, dikatakannya, juga membuat kepercayaan pasar kredit di Indonesia lebih kuat, sehingga stabilitas sistem keuangan terjaga di tengah gejolak perekonomian global yang memengaruhi keuangan domestik.

Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan
Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan

“Dulu enggak ada LPS, sekarang ada LPS. Dulu waktu BI tutup 16 bank tahun 1997, itu tidak ada program penjaminan simpanan, masyarakat panik, baru setelah itu ada. Kalau saat itu sudah ada program penjaminan simpanan, penutupan bank itu tidak akan separah itu,” tuturnya.

“Jadi ya, confidence, pasar credit default swap lebih, CDS (credit default swap) nya. Kalau CDS lebih rendah dari 2013 dan 2015, Indonesia tetap lebih aman taper tantrum dan ekspektasi kenaikan Fed Rate,” tambah Fauzi.

Dari sisi pendapatan, lanjut dia, per Januari hingga Juli 2018 adalah Rp14,6 triliun. Terdiri atas pendapatan premi Rp10,8 triliun, dan pendapatan investasi Rp3,7 triliun.

Adapun dari sisi kinerja operasional, Fauzi mengatakan, sejak 2005 hingga Juli 2018, jumlah bank yang telah dicabut izin usaha sebanyak 90 bank, yakni satu bank umum dan 89 bank perkreditan rakyat. Sementara itu, jumlah bank yang dicabut izin usahanya untuk 2018, yakni dari Januari hingga Juli ada empat BPR.

“BPR, biasanya CIU (cabut izin usaha) karena fraud dan mist-management,” ungkap Fauzi.

Sementara itu, untuk kinerja operasional jumlah layak bayar, atau jumlah nominal rekening yang telah dibayarkan simpanannya sejak 2005 hingga 2018 sebesar Rp1,26 triliun. Untuk Januari-Juli adalah Rp20,95 miliar.