NasionalPolitik

BNP Prabowo: Usai Buat Kegaduhan, Petahana Enggan Minta Maaf

BNP Prabowo: Usai Buat Kegaduhan, Petahana Enggan Minta Maaf (pojokpos.com)BNP Prabowo: Usai Buat Kegaduhan, Petahana Enggan Minta Maaf

Terkait pemberian remisi kepada pembunuh jurnalis Radar Bali, I Nyoman Susrama, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo- Sandi, Ferdinand Hutahaean mengatakan seharusnya Presiden Petahana minta maaf setelah membuat kegaduhan. Ia menyebut revisi Kepres pemberian remisi sebagai bentuk ketakutan Petahana bakal kehilangan suara di Pemilu 2019 mendatang .

Dikatakan Ferdinand, keputusan pemberian revisi tersebut juga dinilai sebagai cermin dari kelemahan Petahana dalam mempertahankan keputusannya.

“Jadi, kalau Jokowi bilang tidak takut apapun saya nyatakan dia takut kehilangan suara, takut kalah di Pilpres maka direvisi lah remisi terhadap pembunuh wartawan di Bali,” ujar Ferdinand, Senin (11/2).

Ferdinand menilai sosok Petahana membuat lembaga kepresidenan seperti mainan. Karena, setelah remisi itu disetujui kemudian karena banyak yang kontra langsung direvisi oleh Petahana.

“Jokowi membuat harga diri lembaga kepresidenan itu seperti mainan bisa ditarik ulur, bisa direvisi diganti bolak balik tidak masalah yang penting sesuai selera politik,” jelasnya.

BNP Prabowo: Usai Buat Kegaduhan, Petahana Enggan Minta Maaf (pojokpos.com)
BNP Prabowo: Usai Buat Kegaduhan, Petahana Enggan Minta Maaf

Politikus Partai Demokrat ini menganggap seharusnya Petahana tidak perlu disuruh untuk menyampaikan permintaan maaf. “Masa minta maaf harus kita suruh? Orang salah mestinya sadar minta maaf, bukan malah minta dua periode,” pungkasnya.

Diketahui, Presiden akhirnya menandatangani Kepres perihal pembatalan pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Sebelumnya, keputusan Presiden Jokowi yang memberikan remisi kepada I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa beberapa waktu lalu sempat mendapatkan protes keras terutama dari kalangan jurnalis di Indonesia. Dikarenakan sempat mendengar kegaduhan, ia lantas merevisinya.

Tinggalkan Balasan